News Update : Kota Bisnis
Home » » Penyalahgunaan Pupuk Bersubsidi

Penyalahgunaan Pupuk Bersubsidi

Penulis : Sun Rise on Selasa, 10 Februari 2015 | 16.57

Alam Indonesia memang luar biasa. Fakta ini tak bisa dipungkiri. Tengok saja, di sini sawah membentang luas. Perkebunan dengan berbagai varian tumbuhan memanjang dari Sabang hingga Merauke. Tanahnya subur dengan hasilnya yang tak perlu diragukan lagi. Tak heran bila banyak orang di negeri ini menggantungkan hidupnya dari bercocok tanam.

Namun, subur saja belum tentu cukup. Ada beberapa faktor lain yang tak boleh dilupakan agar hasil panen maksimal. Pupuk salah satunya. Unsur penyubur tanaman ini tak bisa dilepaskan dari kegiatan pertanian maupun perkebunan.

Pemberian pupuk ke sawah secara rutin tak hanya mempercepat masa panen. Namun juga bisa memperbaiki mutu tanaman dan meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama. Hal yang sama juga berlaku terhadap tanaman produksi lainnya. Tak heran bila pemerintah memberikan subsidi bagi vitamin tanaman ini.

Selain subsidi, pendistribusian pupuk juga diawasi secara ketat. Sayangnya, kebutuhan yang besar ini ternyata dimanfaatkan sejumlah orang untuk berlaku curang. Mereka menyalahgunakan distribusi pupuk bersubsidi, seperti yang terbongkar baru-baru ini di Surabaya, Jawa Timur. Polisi menemukan sekitar 500 ton pupuk bersubsidi disalahgunakan. Sebagian diselundupkan ke Kalimantan.

Menurut informasi yang diterima SCTV, aksi penyelundupan tersebut terbilang rapi dan tricky. Ratusan ton pupuk dikemas dalam karung pupuk nonsubsidi, namun setelah diperiksa ternyata pupuk bersubsidi berwarna merah muda yang telah memudar.

Warna merah muda merupakan identifikasi bagi pupuk bersubsidi. 
Dugaan sementara, warna merah muda pada pupuk sengaja dihilangkan dengan menggunakan zat kimia guna mengelabui petugas. Selain itu belum ada dokumen resmi terkait ratusan ton pupuk itu.

Kami juga mendapat kabar ada penyalahgunaan pupuk bersubsidi di sebuah kota di Sumatra. Tak ingin sradak-sruduk tanpa informasi yang jelas, Tim Sigi mendatangi kediaman seorang yang diduga sebagai "pemain" pupuk. Sayangnya, kami gagal menemui orang tersebut. 

Lalu Tim Sigi mencoba menggali kebenaran cerita soal permainan curang pupuk dengan berkeliling menemui warga sekitar, termasuk tukang buah. Meski tak banyak, segelintir kisah kecurangan yang terserap cukup membuat kecurigaan semakin menguat.

Sejumlah petunjuk mengarah pada sebuah gudang yang letaknya masih samar-samar. Info ini pun ditelusuri meski tak mudah mendeteksi gudang pupuk yang dimaksud. Sebuah gudang tersembunyi ditemukan di tengah perkebunan yang ditutupi tumbuhan yang cukup lebat. Namun belakangan tim belum juga berhasil melokalisir gudang pupuk yang dimaksud.

Petunjuk yang lumayan terang benderang akhirnya didapat. Secara seksama pengamatan dilakukan sangat tertutup. Tim Sigi mengintip ke dalam gudang yang sepintas tak ada aktivitas berarti. Sayangnya, tak ditemukan tumpukan karung pupuk. Gudang kosong melompong.

Sebuah jalan setapak kecil menggiring langkah kami hingga bertemu dengan seorang penjaga tepat di belakang gudang. Penjaga tesebut diduga kuat aparat keamanan karena mengenakan pakaian loreng lengkap dengan atributnya.

Akting pun dimulai, Tim Sigi berpura-pura ingin mengajak kerjasama bisnis pupuk. Tentunya, sambil menggali informasi dari sang penjaga gudang. Tim pun dipersilahkan masuk ke rumah penjaga. Kesempatan emas ini tak disia-siakan. Tanpa sadar, sedikit demi sedikit, si penjaga membuka kedok permainan curang pupuk yang dilakoni oleh Sang Bos. 

Mulai dari mengganti bungkus pupuk bersubsidi menjadi nonsubsidi, sampai pelanggaran distribusinya. Pupuk subsidi itu diberikan kepada pihak yang tidak berhak menerima. Modus-modus kecurangan dalam bisnis pupuk sebenarnya mulai banyak terkuak. Sayangnya, penjagaan ekstra ketat menghalangi tim membongkar lebih banyak fakta-fakta pelanggaran hukum.

Karena diyakini pemain pupuk curang tak hanya satu, penelusuran pun berlanjut. Tim Sigi mengendus lagi adanya permainan nakal yang dilakukan seorang pengecer pupuk di kota lain. Permainan di tingkat bawah ini pun dibeberkan seorang pengecer. Sebuah modus kecurangan berbeda terlontar.

Manisnya bisnis pupuk curang ini ternyata tak hanya digarap satu atau dua orang. Tapi sebagian besar pengecer maupun distributor terlibat. Sebuah kecurangan berjamaah. Pengecer beralasan kecurangan terpaksa dilakukan karena ditekan distributor. Khusus untuk pupuk jenis urea cara curangnya sederhana, yakni dengan cara mengganti karung. Setelah karung diganti, pupuk tersebut dijual ke perusahaan.

Perjalanan menguak kecurangan juga tercium di daerah lain. Ada pengecer yang berbuat curang dengan mengoplos pupuk. Bahan dasarnya berupa pupuk nonsubsidi yang dimilikinya lalu dioplos dengan garam untuk memperbanyak volume pupuk. Supaya keuntungannya semakin berlipat lipat, pupuk bersubsidi versi lama yang masih berwarna putih ikut dioplos.

Bentuk dan warnanya pupuk subsidi yang nyaris serupa jadi peluang untuk dioplos tanpa menimbulkan kecurigaan pembeli. Tak sulit cara mengoplosnya, cukup diaduk dan pupuk urea abal-abal ini pun dikemas lagi. Biasanya pupuk oplosan seperti ini dijual secara eceran.

Tak peduli dampak yang akan ditimbulkan pada tanah maupun tanaman, yang penting sang pengusaha licik bisa mendapatkan keuntungan besar. Praktik mengoplos pupuk hanya satu dari sekian banyak kecurangan yang terjadi.

Permainan lainnya lebih menggila. Aksi licik para pemain pupuk ini bukannya tidak diendus aparat. Namun, hal ini bukan halangan untuk terus mengeruk keuntungan haram.

Penasaran ingin mengetahui lebih jauh praktik kecurangan dalam bisnis pupuk, Tim Sigi juga menyambangi tempat lain. Perjalanan perburuan informasi tiba di salah satu gudang besar yang menampung ribuan ton pupuk bersubsidi. Dengan penyamaran, kami amati aktivitas di gudang ini. Secara kasat mata stok pupuk cukup melimpah. Tak ingin menerka-nerka kami menemui bos gudang.

Obrolan mengalir, sang pemilik mengaku tak pernah melakukan kecurangan. Tapi, pengakuan tersebut bertolak belakang dengan penelusuran sebelumnya. Menurutnya stok pupuk saat ini masih banyak dan tak mungkin terjadi kekurangan di tingkat pengecer. Tapi faktanya di lapangan sungguh berbeda dari pengakuan bos gudang. Sejumlah petani mengaku kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi yang sudah menjadi hak mereka.
Subsidi pemerintah untuk petani dimanfaatkan sejumlah pengusaha nakal mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Mereka menjual ratusan ton pupuk bersubsidi ke berbagai perusahaan.


Sumber
Share this article :

Posting Komentar

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger